Kalau ngomongin pertumbuhan ekonomi, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) lagi jadi primadona nasional nih. Tapi tunggu dulu, di balik angka yang super kinclong itu, ada fenomena unik di mana para investor lokalnya malah milih kabur dari bursa saham. Lho, kok bisa?
Data BPS awal Mei 2026 nyebutin kalau ekonomi NTB di Kuartal I 2026 sukses meroket 13,64 persen secara Year-on-Year. Angka dua digit ini gila banget, dan pemicu utamanya adalah lonjakan drastis dari ekspor tembaga mentah. Tapi anehnya, kalau dihitung secara kuartalan (Quarter-to-Quarter), ekonomi mereka malah minus 1,3 persen gara-gara lambatnya serapan APBD di awal tahun. Fenomena ini yang sering disebut Dutch Disease, ekonominya kelihatan makmur banget, tapi cuma muter di sektor tambang aja, nggak ngerembes ke sektor lain kayak pertanian atau UMKM.
Ketidakstabilan ini ternyata di-notice sama para pebisnis lokal. Ketua Perempuan Indonesia Maju Provinsi NTB, Baiq Diyah Ratu Ganefi, ngungkapin kalau para pengusaha di sana lagi sibuk merombak portofolio mereka. Ketakutan sama nilai Dolar yang naik turun dan ancaman perang global, mereka milih jual kepemilikan saham di pasar modal dan muterin uangnya buat bikin bisnis riil fisik di daerah.
Realita dari NTB ini ngasih insight keren buat kita. Di saat dunia finansial lagi rollercoaster, punya paper asset (saham/reksadana) emang bagus buat jangka panjang. Tapi, punya keahlian buat muterin uang di sektor riil yang cashflow-nya bisa kita kontrol sendiri setiap hari ternyata jadi instrumen pertahanan (investasi) yang paling masuk akal buat bertahan dari krisis.

