Insiden Mataram Jadi Wake-Up Call: Darurat Fasilitas Rujukan Buat Kedaruratan Mental

Ngomongin kesehatan mental tuh nggak selamanya soal overthinking di kamar sambil dengerin lagu indie. Di level yang udah akut, krisis ini bisa bermanifestasi jadi kedaruratan di ruang publik yang butuh empati lebih dari kita semua. Ada satu kejadian bulan ini yang sukses ngingetin kita soal beban berat fasilitas psikiatrik di daerah.

Tepat pada malam hari tanggal 10 Mei 2026, suasana di Lingkungan Dasan Agung Bawak Bagek, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat mendadak tegang. Seorang pria yang lagi ngalamin psikosis akut (ODGJ) keliling bawa parang dan akhirnya mengunci diri di dalam Masjid Al-Mujahidin. Untungnya, berkat negosiasi asik dan pendekatan tanpa kekerasan dari Tim Satgas Dinas Sosial sama warga lokal, pria tersebut berhasil dievakuasi jam 10 malam buat dibawa ke RSJ Mutiara Sukma Selagalas.

Kadis Kesehatan Kota Mataram, dr. Emirald Isfihan, ngejelasin kalau tahun 2025 lalu aja, kota ini memproses 161 kasus ODGJ berat. Tingginya angka ini bukan berarti warga sana gampang stres, lho! Tapi, karena Mataram itu pusat rujukan, jadi banyak pasien dari luar pulau yang dilimpahin ke sana. Positifnya, data ini nunjukin kalau Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) sukses ngelakuin deteksi dini buat nyegah kasus pemasungan yang melanggar HAM.

Dari kejadian ini, kita belajar kalau orang dengan gangguan jiwa berat itu bukan tontonan, apalagi bahan jokes. Mereka adalah individu yang otaknya lagi sakit dan butuh pertolongan medis segera. Yuk, kurangi stigma negatif dan dukung pemerintah daerah buat terus perbanyak fasilitas rujukan, biar saudara-saudara kita yang butuh bantuan bisa ditangani secara manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *