Buat kamu yang hobi healing nanjak gunung atau main ke pantai eksotis, pasti pernah ngerasa kesel kalau tiba-tiba ditarik retribusi liar di pintu masuk wisata, kan? Uang yang harusnya buat ngerawat alam malah masuk kantong pribadi. Nah, good news buat kamu yang mau liburan ke Nusa Tenggara Barat (NTB), pemerintah sana lagi clean-up jalur wisata mereka lewat ekosistem digital!
Bulan Mei 2026 ini, industri pariwisata di NTB lagi vibes-nya bagus banget. Di wilayah selatan, ajang balap GT World Challenge Asia di Sirkuit Mandalika (1-3 Mei) sukses nyedot 12.522 penonton berkat strategi digital marketing InJourney (ITDC). Dampaknya luar biasa, hotel-hotel di sana pada fully booked sampai 100 persen, dan ratusan warga lokal terserap jadi tenaga kerja sirkuit. Tapi, di tengah membeludaknya turis ini, ada ancaman overtourism alias kelebihan kapasitas yang bisa ngerusak alam.
Merespons hal itu, Pemkab Lombok Timur ngeluarin aturan tegas. Retribusi wisata ke kawasan Lembah Sembalun dan jalur pendakian Gunung Rinjani sekarang diubah total jadi sistem pembayaran nir-tunai (cashless) digital! Dari mulai bayar homestay, makan, sampai tarif masuk gunung, semuanya terpusat secara elektronik. Tujuannya simpel tapi nendang, mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) buat dikembaliin ke desa, sekaligus membunuh praktik pungli yang sering merugikan pengunjung.
Langkah digitalisasi ini keren banget karena nunjukin kalau pariwisata modern itu harus sustainable (berkelanjutan). Kita boleh menikmati alam sepuasnya, tapi alam juga butuh dana konservasi yang jelas transparasinya. Jadi, siapin saldo e-wallet kamu kalau mau mampir ke Rinjani atau Mandalika, ya!

