Kesepian di Negeri Orang: Realita Kesehatan Mental Para Pahlawan Devisa Kita

Scroll sosmed ngelihat teman kerja di luar negeri dengan background salju emang kelihatannya estetik banget. Tapi di balik foto-foto keren itu, ada realita sunyi yang jarang banget dibahas, hantaman mental akibat gegar budaya (culture shock) dan rasa sepi yang bisa bikin mental breakdown.

Isu ini dibongkar habis-habisan oleh Kepala Puskesmas Entikong, Gatot Setiarno, dalam dialog Obrolan Indonesia Sehat di RRI pada 8-11 Mei 2026 kemarin. Beliau memaparkan betapa rentannya kondisi psikologis Pekerja Migran Indonesia (PMI) di negara tujuan. Selama ini, syarat berangkat kerja ke luar negeri cuma ngecek kesehatan fisik doang. Padahal, pas sampai di sana, mereka dihajar sama isolasi sosial, bos yang kadang toxic parah, sampai putusnya komunikasi sama keluarga di rumah.

Kombinasi tekanan ini sering berujung pahit. Banyak kasus di mana para buruh migran ini pulang lewat pintu perbatasan Entikong bawa “oleh-oleh” gangguan kecemasan parah atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang bikin mereka nggak bisa produktif lagi. Makanya, sekarang pemerintah daerah lagi gencar-gencarnya ngewajibin literasi pramigrasi. Calon pekerja diajarin ngenalin red flag stres sejak dini (kayak susah tidur kronis) dan didorong buat ngebangun support system sesama perantau.

Cerita ini jadi reminder buat kita semua. Mau karir di dalam atau luar negeri, kesiapan mental itu fundamental banget. Kalau kebetulan kamu punya keluarga atau teman yang lagi merantau jauh, yuk sering-sering di-chat atau video call. Perhatian kecil dari rumah itu bisa jadi booster kewarasan yang berharga banget buat mereka!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *