Ketika Kursi Kuasa Dijadikan Warung, Jualan Mulu Lu!

Bro, mari kita sepakat dulu, kepemimpinan itu bukan skin premium di game yang bisa dibeli pake koneksi. Dia adalah mandat kolektif yang lahir dari konsensus. Tapi sayangnya, banyak yang memperlakukan kursi itu seperti one man show Netflix yang semua nonton, satu orang yang ngatur skenario, sisanya jadi figuran rubber stamp.

Masalahnya dimulai ketika power syndrome stadium 4 mewabah. Gejalanya klasik, contohnya ngerasa paling benar, alergi kritik, dan mengidap halusinasi bahwa dirinya adalah pusat semesta. Padahal secara epistemologi, kekuasaan itu temporal. Tapi lu nolak nerima fakta itu karena ego lu udah terlanjur di setting ke mode dewa.

Lalu lahirlah ekosistem inner circle. Isinya? yes man dan gatekeeper profesional. Kerjaannya bukan mikir, tapi mengamankan diri dan akses. Mereka rela jadi carper demi bisa duduk paling depan pas fotoan. Ironisnya, setelah crown prince yang mereka jaga naik takhta, mereka sendiri yang pertama kali di ghosting. Itulah hukum alam politik, tangga dipakai untuk naik, lalu dibuang.

Jangan lupakan peran king maker. Mereka ini sutradara di balik layar. Nggak maju, tapi nentuin siapa golden boy atau golden girl yang akan dipromosiin. Meritokrasi? Itu mitos. Yang ada adalah logika patronase. Hasilnya, pemimpin yang lahir bukan karena kapasitas, tapi karena katalog.

Dan ketika produk gagal itu berkuasa, perkumpulan berubah jadi museum. Semua keputusan nunggu restu. Semua inisiatif mati karena takut. Ini bukan perkumpulan, ini kultus. Ini bukan kolektivitas, ini diktatorisme berkedok musyawarah. Struktur jalan, tapi ruhnya mati.

Yang paling tragis adalah faksionalisme. Di dalam satu perkumpulan besar, tumbuh kelompok-kelompok kecil yang eksklusif. Yang tidak diajak? Disuruh loyal aja. Yang nggak taat? Dicap pengkhianat. Akhirnya kita punya perkumpulan yang isinya geng, bukan member. Punya jargon, tapi nggak punya etika.

Puncaknya adalah saat masa jabatan mau habis. Munculah spesies lame duck. Kekuasaannya udah nggak digubris, tapi egonya nolak pensiun. Mulailah drama, memperpanjang, bertele-tele, paranoid takut disaingi. Padahal semua orang sudah tahu, kereta sudah jalan, dan masinisnya bukan dia lagi.

Generasi hari ini tidak butuh pemimpin yang alergi dikritik. Mereka butuh pemimpin yang paham kolegialitas, yang berani membangun regenerasi bukan membunuhnya. Mereka butuh pemimpin yang mengerti bahwa jabatan itu ujian, bukan validasi eksistensi. Kalau nggak, maka lu hanya akan dikenang sebagai footnote memalukan di buku sejarah perkumpulan.

Jadi, kepada para pemimpin dan juru atur zolim, berhentilah. Turunkan egonya. Lepaskan kursinya. Karena sejarah tidak pernah ramah pada mereka yang mengkhianati legitimasi. Dan ingat, satu-satunya hal yang lebih memalukan daripada menjadi pemimpin buruk adalah menjadi juru atur yang melahirkan pemimpin buruk lalu bangga dengan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *