Golden Triangle: Ujian Terakhir Budaya Nusantara, Pluralisme Agama untuk Masa Depan Bali Nusra

Oleh: Badrul Muhayat, PKC PMII Bali Nusra

Sahabat-sahabat, mari kita jujur. Ujian terbesar Indonesia hari ini bukan ada di Istana. Ujian itu sedang berlangsung di Timur. Di sebuah kawasan yang kita sebut Golden Triangle, Bali, NTB, NTT. Di sinilah, dalam satu tarikan napas, kita bisa menemukan Pura, Masjid, dan Gereja. Jika di kawasan ini kita gagal menjaga persatuan, maka gagal pula kita menjaga Indonesia. Karena itu, Golden Triangle bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah Ujian Terakhir Budaya Nusantara.

Tantangannya tidak datang dengan senjata. Ia datang lewat algoritma, lewat arus investasi pariwisata, dan lewat narasi yang membawa kita untuk menjadi sama. Globalisasi hari ini mengikis identitas kita secara halus. Di Bali, nilai-nilai Hindu menjadi komoditas healing yang kehilangan ruh. Di NTB, kearifan lokal Islam Sasambo tertekan oleh arus transnasional. Di NTT, semangat Flobamora diuji oleh ketimpangan dan politik identitas. Kita sedang diuji, apakah kita akan larut, atau kita akan berdiri?

Padahal, Al-Qur’an 1400 tahun lalu sudah memberikan kompas. Allah tidak pernah salah dalam desain-Nya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُم

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kita dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kita saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kita di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Kata kuncinya adalah لِتَعَارَفُوا  yang berarti agar kita saling mengenal. Keberagaman adalah kehendak Tuhan. Tugas kita bukan menghapus beda, tapi merajutnya.

Di sinilah kita harus meluruskan. Pluralisme bukanlah semua agama sama saja. Itu adalah relativisme yang berbahaya. Pluralisme yang kita perjuangkan adalah pengakuan, penghormatan, dan kerja sama di atas perbedaan untuk satu tujuan, kemaslahatan bangsa. Inilah yang kita sebut ukhuwwah wathaniyah, persaudaraan kebangsaan. Ini bukan impor dari Barat. Ini warisan Nabi kita sendiri.

Rasulullah SAW telah mempraktikkannya di Madinah. Piagam Madinah adalah konstitusi pertama di dunia yang mengatur hidup bersama antara Muslim, Yahudi, dan Nasrani. Dan beliau bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kita, sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri”. (HR. Bukhari No. 13 dan Muslim No. 45)

Jika saudara di Madinah mencakup Yahudi, maka saudara di Indonesia hari ini mencakup Hindu, Buddha, Kristen, dan Konghucu. Cinta tanah air adalah bagian dari iman kita.

Gus Dur pernah mengingatkan kita, agama tanpa budaya akan kering, budaya tanpa agama akan liar. Golden Triangle adalah bukti hidup dari kalimat itu. Ada Nyepi di Bali untuk menjaga keseimbangan alam. Ada Bau Nyale di Lombok untuk menjaga laut dan hasil bumi. Ada Semana Santa di Larantuka untuk menguatkan iman. Beda ritual, satu tujuan, harmoni. Ini adalah teologi yang membumi. Ini adalah Budaya Nusantara yang telah menjaga kita ratusan tahun.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menegaskan tujuan utama syariat, dalam kalamnya :

 المقصد من الشرع حفظ خمسة: الدين والنفس والعقل والنسل والمال

“Tujuan dari syariat adalah menjaga lima hal, Agama, Jiwa, Akal, Keturunan, dan Harta.”

Konflik atas nama agama di Golden Triangle akan melanggar kelimanya sekaligus. Karena itu, menjaga persatuan di sini adalah jihad paling nyata hari ini. Menjaga persatuan adalah menjaga agama itu sendiri.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Tiga langkah. Pertama, kita dorong ekonomi kreatif berbasis nilai. Jangan hanya jual pantai. Mari kita jual toleransi sebagai produk unggulan. Kedua, kita kuasai ruang digital. Kader PMII Bali Nusra harus menjadi produsen narasi damai, bukan korban hoax. Ketiga, kita bangun Forum Lintas Iman dan Adat yang rutin. Ulama, Pandita, Pendeta, dan Pemangku Adat harus satu meja, seperti para Wali dulu. Dakwah dengan budaya, bukan dengan permusuhan.

Sahabat-sahabat, mari kita akhiri dengan keyakinan. Golden Triangle bukanlah daerah 3T. Ia adalah daerah 3M, Mercusuar, Model, dan Masa Depan Indonesia. Jika kita berhasil membuktikan bahwa kita yang berbeda-beda ini bisa tetap satu barisan, maka kita telah memenangkan ujian terakhir.

Ingat kembali firman Allah إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ yang berarti kemuliaan bukan diukur dari jumlah pengikut, tapi dari seberapa besar kita menjaga persatuan. Indonesia tidak akan selamat karena satu agama. Indonesia akan selamat karena kita semua sepakat menjaga Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *