Jujur aja, hidup di ibu kota itu emang menguji kesabaran banget. Berangkat kerja macet, pulang kerja macet, belum lagi biaya hidup yang makin mahal dan persaingan yang nggak ada habisnya. Sindrom metropolitan ini diam-diam bikin banyak dari kita ngalamin burnout parah. Tapi kabar baiknya, isu kelelahan emosional kita ini udah mulai diurus serius di meja wakil rakyat.
Dalam Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta pada 11 Mei 2026 kemarin, Anggota Fraksi PSI, Elva Farhi Qolbina, vokal banget mengkritik kalau pelayanan kesehatan mental di Jakarta masih dianaktirikan alias kayak “tamu tak diundang”. Kritikan ini valid banget kalau kita lihat data Kemenkes, angka depresi warga Jakarta usia 15 tahun ke atas udah tembus 1,5 persen. Bahkan, urusan gangguan jiwa secara umum, Jakarta nangkring di peringkat dua se-Indonesia dengan prevalensi 2,2 persen. Gila, kan?
Kondisi sosiologis yang penuh tekanan ini mendorong parlemen buat ngebut ngesahin Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Sistem Kesehatan Daerah. Fokus utamanya bukan cuma ngebangun fasilitas fisik, tapi ngeintegrasiin konsep collective care (perawatan kolektif). Lewat Raperda ini, Pemprov DKI Jakarta dituntut buat hadir nyembuhin “jiwa warga yang lelah” dengan ngasih akses konseling merata yang disubsidi penuh sama negara.
Ini artinya, hustle culture yang sering kita agung-agungkan itu punya price tag berupa kesehatan mental yang mahal. Kita boleh punya ambisi, tapi kita juga berhak buat istirahat. Semoga aja Raperda ini cepat ketok palu, jadi warga ibu kota punya akses yang layak buat nebus obat “capek hati” setelah seharian dihajar kerasnya Jakarta.

