Pernah nggak sih kamu dengar orang dewasa bilang, “Ah, anak kecil tahu apa soal stres, paling cuma caper”? Stigma kayak gini yang sering bikin teman-teman atau adik-adik kita memendam lukanya sendirian. Padahal, realita di lapangan jauh lebih mengkhawatirkan dari sekadar “fase galau” masa muda.
Pada awal Mei 2026 ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) baru aja membuka mata kita lewat hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari sekitar 7 juta anak yang udah diskrining di seluruh Indonesia, ternyata hampir 10 persennya terindikasi kuat punya masalah kesehatan jiwa! Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menjabarkan kalau ada sekitar 338 ribu anak yang mengalami anxiety (kecemasan berlebih) sampai bikin panik akut, dan parahnya lagi, lebih dari 363 ribu anak terindikasi depresi klinis. Yang bikin makin merinding, data Global School-Based Student Health Survey nyatet kalau tren percobaan bunuh diri di kalangan anak muda melonjak drastis dari 3,9 persen (2015) jadi 10,7 persen di tahun 2023.
Tingginya angka ini ngebuktiin kalau ada yang salah sama support system kita selama ini. Sebagai respons cepat, Kemenkes langsung ngebut bikin portal healing119.id buat intervensi krisis secara real-time. Nggak cuma itu, mereka juga menggandeng delapan kementerian lain (termasuk Kemendikdasmen dan Polri) lewat Surat Keputusan Bersama (SKB) buat ngebangun ekosistem yang lebih suportif buat anak muda, bukan cuma fokus nyembuhin di rumah sakit.
Ini saatnya kita berhenti menyepelekan kesehatan mental. Kalau kamu atau orang terdekatmu lagi ngerasa burnout atau butuh tempat cerita, please reach out. Kita butuh saling rangkul, karena validasi perasaan itu adalah langkah pertama buat sembuh!

