Kalau dengar kata layoff, yang terlintas di kepala kita biasanya nasib karyawan level bawah atau middle management yang lagi burnout dikejar target. Tapi, siapa sangka kalau orang-orang yang duduk manis di kursi empuk eksekutif juga lagi keringat dingin? Yup, integrasi AI ternyata nggak pandang bulu dan mulai mengancam posisi para petinggi perusahaan.
Berdasarkan “Global AI Confessions Report: CEO Edition 2026” yang dirilis bulan Mei ini oleh Dataiku dan Harris Poll, ada fakta yang lumayan bikin kaget. Sebanyak 80% CEO di seluruh dunia (dan 81% di Amerika Serikat) ngerasa posisi mereka bakal ditendang oleh dewan direksi sebelum tahun 2026 berakhir! Alasannya? Mereka gagal ngebuktiin Return on Investment (ROI) dari triliunan rupiah yang udah mereka bakar buat eksperimen AI Generatif. Masa-masa “coba-coba” demi ngejar Fear Of Missing Out (FOMO) teknologi rupanya udah habis, dan kini investor menagih hasil nyata.
Di balik tekanan tersebut, para CEO ini ternyata juga panik sendiri sama “monster” yang mereka ciptakan. Buktinya, rasa pede para bos untuk nyerahin keputusan penting ke AI anjlok dari 41% jadi cuma 31%. Sekitar 79% CEO ketakutan bakal kena tuntutan hukum gara-gara bias AI atau pelanggaran hak cipta. Lebih seremnya lagi, ada fenomena black box di mana 57% eksekutif takut kehilangan pelanggan karena mereka sendiri nggak bisa ngejelasin gimana cara AI di perusahaannya ngambil keputusan. Belum lagi masalah shadow AI, di mana 96% karyawan diem-diem pakai tools AI nggak resmi yang rawan ngebocorin data rahasia kantor.
Situasi ini ngebuktiin kalau adopsi teknologi itu nggak seindah template presentasi pitch deck. Buat kita yang lagi meniti karir, ini jadi pelajaran mahal bahwa leadership di masa depan bukan cuma soal jago bikin inovasi produk, tapi soal seberapa pintar kita memanajemen risiko. Di era di mana algoritma bisa bikin perusahaan terbang sekaligus terjun bebas, punya critical thinking yang kuat adalah superpower yang nggak bisa ditiru mesin mana pun.

