Masih ingat nggak sih zaman sekolah dulu? Tiap kali dipanggil ke ruang Bimbingan Konseling (BK), bawaannya pasti overthinking. Mikirnya pasti, “Wah, gue bikin salah apa nih?” Ruang BK tuh identik banget sama hukuman, razia rambut, atau tempat ngurusin murid yang dicap “bermasalah”. Tapi tenang aja, paradigma kuno yang toxic itu bakal segera musnah!
Di bulan April 2026 ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Pak Abdul Mu’ti, baru aja merilis Permendikbudristek Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Regulasi ini jadi game-changer banget karena ngerombak total cara sekolah nanganin siswanya. Daripada fokus ngehukum, sekarang sekolah wajib fokus ke deteksi dini mental dan ngegali potensi siswa.
Langkah radikal ini diambil karena data di lapangan emang udah se-mengkhawatirkan itu. Bayangin aja, persentase pelajar yang punya pikiran buat nyerah sama hidup (suicidal ideation) naik dari 5,4% di tahun 2015 jadi 8,5% di 2023. Yang lebih ngeri, angka percobaan aktualnya meroket hampir tiga kali lipat jadi 10,7%. Jelas, sekolah butuh penawar secepatnya.
Aturan baru ini dibangun pakai lima pilar keren. Nggak cuma ngomongin perlindungan dari kekerasan fisik, tapi juga kesejahteraan psikologis. Ruang kelas harus jadi safe space buat kita berekspresi tanpa takut di-judge. Selain itu, ada juga pilar Keberadaban Digital (Digital Civility). Pemerintah akhirnya sadar kalau dunia nyata dan cyber itu sama-sama ngaruh ke mental. Jadi, siswa bakal dibekali tameng literasi buat ngadepin cyberbullying dan tekanan fomo ngeliat kehidupan orang lain yang kelihatan sempurna di medsos.
Tapi, ada PR besarnya nih. Pemerintah pasang target buat melatih 2,8 juta guru sampai tahun 2029 biar mereka bisa jadi responden pertama kalau ada siswa yang kena krisis mental. Kendalanya, guru-guru kita sekarang aja udah burnout sama beban administrasi yang segunung. Kalau nggak dibarengi perbaikan gaji dan fasilitas buat kesejahteraan guru itu sendiri, niat baik ini malah bisa jadi bumerang.
Intinya, mental health di sekolah itu butuh teamwork. Kita sebagai siswa atau alumni juga bisa bantu dengan cara stop bullying dan bikin circle pertemanan yang sehat. Yuk, jadikan sekolah tempat kita tumbuh, bukan tempat yang bikin kita runtuh!

