Peringatan: Artikel ini membahas isu sensitif seputar bunuh diri. Kalau kamu lagi ngerasa berat banget, please reach out ke teman, keluarga, atau tenaga profesional, ya. Kamu berharga!
Kadang kita terlalu sibuk ngejar deadline atau scroll media sosial sampai lupa kalau ada luka tak kasat mata di sekitar kita. Di awal tahun 2026 ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sampai harus nekan tombol darurat nasional. Alasannya bikin hati kita hancur, dalam waktu kurang dari tiga minggu, ada tiga kasus fatalitas di mana adik-adik kita memilih untuk menyerah sama hidupnya.
Kejadian beruntun ini bukan cuma kebetulan yang random. Di akhir Januari 2026, seorang anak 10 tahun di Ngada, NTT, jadi korban kerasnya kemiskinan struktural. Disusul pertengahan Februari di Penajam Paser Utara, siswi SMP berusia 14 tahun berpulang saat orang tuanya lagi repot di rumah sakit, sebuah potret betapa bahayanya kekosongan dukungan emosional. Lalu di Demak, seorang anak SD 13 tahun juga pergi, membuktikan bahwa penderitaan mental itu sering kali sunyi dan nggak ninggalin memar fisik.
Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, nyebut fenomena di awal 2026 ini udah sangat abnormal. Ada banyak banget adik-adik kita yang ngerasa teralienasi alias terasingkan, entah karena perundungan, kemiskinan, atau kerasnya dunia digital. Data dari KPAI dan survei I-NAMHS bahkan nunjukin kalau 1 dari 3 remaja kita tuh struggling sama masalah kesehatan mental. Dari jutaan jiwa itu, ironisnya cuma 2,6% yang berhasil dapat bantuan profesional. Sisanya? Memendam sendiri.
Merespons krisis ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin akhirnya ngeluarin jurus baru. Pemerintah sekarang lagi gencar nempatin psikolog klinis langsung di Puskesmas-Puskesmas. Tujuannya simpel, biar layanan psikologi itu sedekat beli obat flu di apotek, dan ngehapus stigma kalau ke psikolog itu harus ke rumah sakit jiwa yang sering dianggap aib.
So, apa yang bisa kita lakuin? Mulai sekarang, yuk lebih peka sama circle terdekat kita. Coba sapa adik, sepupu, atau teman yang akhir-akhir ini kelihatan menjauh. Nanya “kamu hari ini capek nggak?” bisa jadi pelampung yang nyelamatin nyawa orang lain. Dan ingat, it’s okay not to be okay, dan minta tolong ke profesional itu bukan tanda lemah, melainkan tanda kalau kamu berani untuk sembuh.

