Portofolio Lagi Berdarah? Asing Jual Saham Rp2,95 Triliun, Waktunya Serok Saham Diskon?

Buka aplikasi investasi hari ini dan disambut warna merah merona? Kamu nggak sendirian. Buat kamu yang lagi nabung saham, minggu ini mungkin rasanya pengen nutup mata tiap liat portofolio. Tapi tenang, yuk kita bedah pelan-pelan apa yang sebenernya lagi terjadi di balik layar.

Sepanjang pekan perdagangan 20 hingga 24 April 2026 kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) beneran dihantam badai. Indeks kebanggaan kita ini terperosok lumayan dalam, turun 6,61% atau kehilangan sekitar 504 poin. Puncaknya kerasa di hari Senin, 27 April 2026, di mana saham-saham mendadak kena panic selling massal jelang penutupan, bikin kapitalisasi pasar kita menguap belasan ribu triliun.

Usut punya usut, dalang utama dari drama ini adalah investor asing yang lagi “pulang kampung”. Mereka melakukan aksi jual bersih alias net foreign sell gila-gilaan sampai Rp2,95 triliun cuma dalam lima hari perdagangan! Alasan utamanya? Sentimen global. Mulai dari data inflasi Amerika Serikat yang alot, sampai ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang bikin investor fomo mindahin uang mereka ke aset aman kayak dolar atau emas.

Yang bikin kaget, aksi jual asing ini nggak nyerang semua sektor, tapi secara spesifik nyasar ke bank-bank raksasa yang sebenernya punya fundamental super sehat. Coba bayangin, Bank BCA, Bank BRI, dan Bank Mandiri jadi sasaran tembak utama. Bank BRI (BBRI) misalnya, sahamnya anjlok ke level 3.070 gara-gara dilego asing senilai Rp1,80 triliun.

Padahal kalau kita cek “daleman” perusahaannya, kesehatan bank ini solid banget. Laba jalan terus, kredit UMKM tumbuh, bahkan mereka baru mau bagiin dividen cetak rekor Rp52,10 triliun! Penurunan paksa ini bikin valuasi (PBV) mereka jadi super murah di angka 1,44 kali.

Makanya, buat kamu yang ngerti fundamental dan emang niat investasi jangka panjang, momen “berdarah” ini justru dilihat analis sebagai diskon besar-besaran. Daripada ikut panik, mending pakai strategi buy on weakness alias cicil beli pelan-pelan di harga bawah. Market emang lagi emosional, tapi data fundamental jarang bohong. Gimana, berani serok?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *