Kenapa Harus Berpatron? Di Era Algoritma, Kita Justru Butuh Manusia

Bayangin sahabat-sahabat disuruh nyebrang lautan pakai kapal. GPS ada, internet ada, peta ada. Tapi gak ada nahkoda. Hasilnya? Sahabat-sahabat paling jago debat soal arah angin. Paling fasih bahas jenis ombak. Tapi kapalnya muter-muter di tempat. Capek. Dan akhirnya karam (BM).

Itulah kita hari ini sahabat-sahabat.  Generasi yang paling melek informasi, tapi paling buta arah.  Kader yang paling lantang di podium, tapi paling bingung saat ditanya 5 tahun ke depan sahabat-sahabat mau jadi apa? PMII mau dibawa kemana?

Di tengah banjir konten 15 detik dan influencer yang gonta-ganti narasi, sahabat-sahabat sedang mengalami krisis yang lebih berbahaya dari krisis ekonomi yaitu Krisis Patronase.

Dalam sosiologi, ada istilah Social Learning Theory dari Albert Bandura. Intinya manusia belajar 80% dari meniru. Sahabat-sahabat bukan lahir jadi pemimpin. Sahabat-sahabat jadi pemimpin karena melihat pemimpin.

Al-Qur’an 1400 tahun lalu sudah bilang فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ, Artinya: Bertanyalah kepada ahlinya jika kamu tidak tahu. (QS. An-Nahl : 43)

Ini bukan ayat kolot. Ini metodologi riset. Sebelum bikin disertasi, sahabat-sahabat harus bahas kajian pustaka. Sebelum bangun gerakan, sahabat-sahabat harus mengkaji manusianya dulu.

Berpatron adalah bentuk epistemologi. Cara sahabat-sahabat memastikan ilmu yang didapat valid, bukan hoax. Tanpa patron, sahabat-sahabat cuma jadi kader Google. Pinter ngutip, tapi kosong pengalaman. Pinter kritik, tapi nihil solusi.

Sahabat-sahabat, mari jujur. Berapa banyak dari sahabat-sahabat yang merasa independen, tapi hasilnya, gak punya jejak, gak punya karya, gak punya kader?

Rasulullah punya sahabat. Imam Syafi’i punya guru. Soekarno punya mentor.  Bahkan revolusi butuh komando. Hadits Nabi mengingatkan الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ, Artinya: Ulama adalah pewaris para Nabi. (HR. Tirmidzi).

Berpatron berarti menyambungkan sanad perjuangan sahabat-sahabat. Biar kerja sahabat-sahabat nyambung ke kerja besar 100 tahun lalu. Biar kaderisasi sahabat-sahabat visioner hingga 100 tahun kedepan.

Kalau sahabat-sahabat mati-matian anti patron, tapi diam-diam sahabat-sahabat ngefans sama seleb TikTok dan copy gaya bicaranya. Bukankah itu juga berpatron? Bedanya, sahabat-sahabat pilih patron yang salah.

Ini penyakit sahabat-sahabat. Di kampus, aktivis. Di LinkedIn, profesional. Dua dunia beda. Padahal Jim Rohn, pakar leadership dunia bilang You are the average of the 5 people you spend the most time with. Artinya: Level hidupmu ditentukan oleh siapa yang kamu jadikan cermin.

Berpatron artinya mencari seseorang yang bisa jawab 3 pertanyaan sahabat-sahabat sekaligus, bagaimana sholatku biar khusyuk Bagaimana karirku biar berkah? Bagaimana diriku biar berdampak?

Kalau patron sahabat-sahabat cuma bisa jawab 1 dari 3 itu, cari lagi. Sahabat-sahabat butuh mentor yang utuh. Yang kalau sahabat-sahabat ketemu dia, sahabat-sahabat ingat Allah. Kata Syekh Abdul Qodir Al-Jailani.

Di era algoritma, semua orang bisa jadi Kyai Digital. 1 juta followers, dianggap ulama. Padahal Imam Al-Ghazali sudah warning 1000 tahun lalu lewat konsep Tarbiyah, Pendidikan itu harus ada murabbi. Ada yang ngawasin, negur, dan marahin.

Ciri patron sejati bukan yang paling banyak disukai. Tapi yang paling berani tidak disukai karena menyampaikan kebenaran. Ciri patron sejati, habis ketemu dia, sahabat-sahabat bukan makin jumawa. Sahabat-sahabat makin takut salah.

Sahabat-sahabat boleh menolak feodalisme. Sahabat-sahabat boleh kritik kultus individu. Tapi jangan sampai, atas nama kemerdekaan berpikir, sahabat-sahabat menolak bimbingan. Itu namanya bukan merdeka. Itu namanya tersesat.

Berpatron adalah tindakan paling revolusioner di abad ini. Karena di saat semua orang mau jadi satu-satunya, sahabat-sahabat berani bilang, saya butuh dibimbing. Karena di saat semua orang jualan diri, sahabat-sahabat berani bilang, saya mau tunduk pada kebenaran.

Ingat. Tanpa patron, sahabat-sahabat akan hebat dalam diskusi. Dengan patron, sahabat-sahabat akan berdampak dalam sejarah. Jangan jadi generasi yang paling banyak followers, tapi paling sedikit yang mengikuti jejak kebaikan.

Cari patronmu sahabat-sahabat. Tunduk pada ilmunya. Lawan egomu. Lalu gantikan dia suatu hari nanti. Dengan versi yang lebih baik. Itu namanya estafet. Itu namanya PMII.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *