Pernah dapat video call atau pesan suara dari teman yang pinjam uang, tapi auranya agak mencurigakan? Kalau iya, please banget buat langsung red flag! Kejahatan siber sekarang udah bukan cuma soal orang nanya OTP, tapi pelakunya udah pakai robot pinter yang bisa nyuri wajah dan suara kita dengan sangat smooth.
Menurut dokumen riset terbaru dari Indosat Business dan pakar keamanan siber Dr. Ir. Charles Lim yang dirilis pada 11 Mei 2026, ekonomi digital kita yang lagi tumbuh pesat ternyata punya celah horor yang disebut “Resilience Gap” (Kesenjangan Ketahanan). Bayangin aja, dari semua perusahaan di Indonesia, cuma 11 persen yang sistem keamanannya beneran siap ngadepin hacker modern. Akibatnya? Kejahatan yang pakai Kecerdasan Buatan (AI fraud) di sektor fintech melonjak gila-gilaan sampai 1.550 persen!
Pelaku kejahatan sekarang pakai teknologi deepfake video dan peniruan suara AI buat ngakalin sistem verifikasi wajah di aplikasi bank (KYC) atau buat nipu orang terdekat kita. Belum lagi ancaman ransomware (virus penyandera data) yang makin ganas dan bisa bikin perusahaan rugi rata-rata Rp15 miliar per insiden kebocoran data. Makanya, dokumen tersebut mendesak perusahaan buat nerapin “Arsitektur Zero Trust” alias jangan pernah percaya siapa pun yang mau akses sistem tanpa verifikasi ketat.
Di tengah gempuran scam yang makin di luar nalar ini, fitur “Human Firewall” alias kesadaran kita sendiri adalah pertahanan terakhir. Buat kita-kita yang aktif di dunia maya, ini saatnya buat makin kritis. Jangan gampang share data biometrik, dan selalu konfirmasi ulang pakai jalur lain kalau ada orang terdekat yang tiba-tiba minta transfer uang via digital. Stay safe, guys!

